Skip to content

27 Mei

May 27, 2009

Jogja 27 Mei 2006, Jam 6 Pagi Kurang Sedikit

Jogja 27 Mei 2006, Jam 6 Pagi Kurang Sedikit

Tepat 3 tahun yang lalu, pukul 6 pagi kurang sedikit, Jogja terkena musibah. Gempa dengan kekuatan 5,5 SR hanya dengan waktu kurang dari 1 menit, membuat ribuan nyawa warga Jogja harus dipanggil oleh Nya. Dan membuat warga lainnya menangis karena harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Tepat 3 tahun yang lalu, pukul 6 pagi kurang sedikit, saya masih tidur-tiduran sambil nonton berita di teve. Gak nyangka kalo yang membuat kamar saya goyang dan grusak grusuk itu tenyata gempa! 1 menit kurang, saya di dalam kamar, gak keluar. Dan betapa kagetnya waktu saya keluar kamar ternyata yang goyang dan grusak grusuk tadi itu gempa! Oalah….

*dalam hati : Ya Allah…gak kebayang gimana saya ini kalo kamar dan kost-kostan saya ikut hancur!

Ingatan saya tentang kejadian 3 tahun yang lalu gak akan luntur. Waktu kuliah di kampus lantai 4 jam 8 paginya, saya, temen-temen kuliah, dan dosen dikagetkan lagi oleh gempa susulan. Sontak semua mahasiswa turun dari lantai 4, syok! Takut-takut kalo kampus ini roboh.

Ingatan saya tentang kejadian 3 tahun yang lalu gak akan luntur. Gunung Merapi di daerah utara sedang aktif dan ditakutkan akan meletus, warga Jogja malah dikagetkan dengan gempa yang bersumber dari daerah selatan, Bantul. Isu tsunami melanda Jogja. Orang-orang dari arah selatan rame-rame menuju daerah utara yang memang daerah tinggi, Kaliurang. Gimana panik dan takut terbungkus menjadi satu. Gunung Merapi pun mulai mengeluarkan wedus gembel.

Ingatan saya tentang kejadian 3 tahun yang lalu juga gak akan luntur. Menyalurkan bantuan ke daerah Wonosari Bantul yang jauh, dengan Honda grand butut saya. Liat di samping kiri dan kanan jalan, hampir semua rumah rata dengan tanah. Jalanan macet oleh orang-orang yang menyalurkan bantuan dan menonton. Kami bukan tontonan!!

Kami Bukan Tontonan. Foto diambil 2 tahun setelah kejadian oleh Andi

Kami Bukan Tontonan. Foto diambil 1 tahun setelah kejadian oleh Andi

3 tahun yang lalu, 27 Mei 2006 Jogja menangis. Saya yang udah kadung cinta sama Jogja pun menangis. Kami menangis! Korban meninggal dan luka-luka berjatuhan. Anak ditinggalkan ayah dan ibunya. Ibu kehilangan ayah dan anaknya. Bahkan seluruh keluarga meninggal, hanya meninggalkan kenangan pahit.

3 tahun yang lalu, 27 Mei 2006 gak hanya Jogja yang menangis. Orangtua yang anaknya kuliah di Jogja pun menangis. Mencari kabar tentang keadaan anaknya, tapi jaringan telepon terkena gangguan. Menangis, padahal hanya melihat keadaan Jogja dari layar teve.

27 Mei 2006 meninggalkan kesan dan trauma. Sedikit aja ada goyangan, semua panik. Keluar dari kamar, keluar dari rumah, gempa…gempa! Gak terkecuali saya. Yang tadinya kalo tidur pintu kamar dikunci, setelah kejadian itu saya gak pernah lagi ngunci kamar kalo tidur. Dan mudah-mudahan 3 tahun berselang, hari ini, trauma itu sudah hilang. Apa kabarnya temen-temen kost saya yang masih trauma ya?

Dibalik musibah tentu ada hikmah. Ikhlas merelakan sanak saudara, kerabat yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Mencari hikmah dan pesan dari musibah gempa ini. Ada apa dengan Jogja? Apakah kita berbuat kesalahan yang membuat murka Sang Maha Kekal? Apakah ini murni hanya musibah? Sesungguhnya ada musibah yang datang untuk mengingatkan manusia dan ada musibah yang datang karena Dia murka, dingatkan tapi malah menghiraukannya.

Saya agak sedikit merasa aneh dengan musibah-musibah besar yang melanda Indonesia. Gak sedikit orang yang membuat musibah ini menjadi tontonan. Musibah pesawat Garuda yang gagal mendarat dan meledak di Adi Sucipto misalnya. Waktu itu penuh sesak dengan orang yang menonton. Bertambah miris waktu banyak yang berjualan balon untuk anak-anak dan minuman dingin. Jalanan pun dijadikan lahan parkir kendaraan bermotor bagi mereka yang mau sekedar liat musibah ini. Gimana kejadian musibah Situ Gintung pun dijadikan “tempat wisata”. Situ Gintung dan rumah-rumah yang udah rata, dijadikan background untuk foto-foto sepasang remaja. Yang berjualan pun berdatangan. Aneh aja rasanya…

Padahal…Kami bukan tontonan!!

Selamat hari rabu. Walaupun saya gak lagi tinggal di Jogja, saya menunduk, sejenak berdo’a untuk para korban yang meninggal dan ditinggalkan. Yakinlah bahwa Dia gak serta merta menurunkan musibah buat kita tanpa ada hikmah dan pesan dibaliknya. Tentunya bagi orang-orang yang mau berpikir…

23 Comments leave one →
  1. May 26, 2009 11:52 pm

    menunduk..berdoa….
    salam………………

  2. May 26, 2009 11:53 pm

    jadi inget peristiwa 3 tahun lalu ini
    saat itu saya masih terlelap tidur
    langsung berlarian keluar rumah
    merasa tidak percaya dengan apa yang telah melanda kotaku ini
    semoga tida terjadi lagi bencana yang melanda negeri ini

    • May 27, 2009 10:45 am

      saya malah gak sadar kalo itu gempa, malah diem aja di kamar.
      beberapa jam setelahnya, merasa gak percaya kalo jogja kena gempa. semua panik!

      semuanya masih terekam jelas, dan gak akan pernah mati!

  3. guskar permalink
    May 27, 2009 12:02 am

    *mengheningkan cipta sejenak, mengenang gempa 5.5 SR yg meluluhlantakkan kota kedua saya*

    sabtu wage, posisi saya 70 km meninggalkan Jogja… kehilangan 2 kerabat

    • May 27, 2009 10:47 am

      saya juga ikut mengheningkan cipta mas, berdo’a untuk semuanya yang telah dipanggil oleh-Nya.

  4. May 27, 2009 1:12 am

    Hhmm….Waktu itu saya masih kelas 2 SMK yawh…

    Semoga hal itu tida terjadi lagi, amiiinnnn…..

  5. May 27, 2009 3:34 am

    Dah 3 tahun ya bang?
    Dulu saya juga panik walo gak tinggal di jogja, karena ada sodara yang di sana.
    Kejadian demi kejadian melanda negara kita..
    Kita harus bisa mengambil hikmah dari Ujian yang diberikan Tuhan kepada kita.

  6. May 27, 2009 5:11 am

    Sahabat,
    Teman saya malah ada yg jadi sukarelawan di sana

    Semoga musibah ini menuai hikmah

  7. May 27, 2009 7:39 am

    mengenangnya sungguh menggetarkan hati..tangisan orang di sepanjang jalan menyayat hati….

    mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa
    atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
    -Ebiet G Ade-

  8. May 27, 2009 8:49 am

    yah, pan…
    ‘musibah’ yang dialami ‘orang lain’ selalu jadi sirkus buat yang lain…
    semacam komedi slapstick yang diamdiam ‘disyukuri’ karena tidak terjadi pada diri sendiri…

    • May 27, 2009 10:27 pm

      tanpa sadar, yang gak kena musibah bersyukur karena gak terjadi pada diri sendiri.
      buat saya itu wajar yo. tapi harusnya wajarnya itu gak menjadi ketidakwajaran buat yang kena musibah (menjadikannya sirkus, tontonan).

      kira-kira begitulah yo. 😀

  9. May 27, 2009 1:29 pm

    turut berduka cita untuk segala musibah yg terjadi di negeri kita ini…

    salam damai INDONESIA kita…

  10. May 27, 2009 2:46 pm

    “Padahal…Kami bukan tontonan!!”

    bener bgt,, ini bisa jadi uneg2 tambahan..
    situ gintung contoh nyata yg qu lihat sendiri bagaiamana pribahasa “bersenang2 diatas penderitaan orang lain” dipraktekkan..
    Orang kesusahan ko’ malah ditonton,, bukannya membantu malah bikin kondisi +ruwet ..

    Ikut berduka atas kejadian yogya 3 tahun silam,, semoga selalu diberi kesabaran..

    • May 27, 2009 10:28 pm

      “bersenang2 diatas penderitaan orang lain”
      jadi bertambah ya uneg-uneg yang bikin enegnya!?😀

  11. May 27, 2009 10:49 pm

    dika turut berduka cita atas segala kejadian yang menimpa indonesia

  12. May 28, 2009 2:32 pm

    Walaupun diriku ngak tinggal di yogya diriku turut berdua cita
    setelah lebaran kemarin diriku sedikit jalan2 kesana, ternyata masik ada sisa2 bangunan yang dulu roboh ya

  13. dhieeewhe permalink
    May 29, 2009 2:08 am

    hmm … jadi inget simbah
    hikss…hikssss….😥

  14. May 29, 2009 4:43 am

    turUt beRduKa citA..atas smua musiBah…
    wAlopun sy g tinggaL d jogja..taPi kebykaN tmaN sy tggaL dsNa..

  15. May 29, 2009 5:52 am

    satu lagi fenomena di negeri ini, selain bencana di jadiin tontonan…
    biasanya semangat kebersamaan dan tolong menolong timbul pada saat keadaan darurat.

    saya ikut menundukkan kepala. berdoa.

  16. May 29, 2009 9:12 am

    27 mei 3 taon yan9 lalu,saat 9empa ituh terjadi pukul 6 pa9i aku baru terban9un dari tidur nyeyakku…dam mendapat kabar dari tetan99a yan9 baru pulan9 kampun9..
    alhamdulilah slamat semua…
    dan kemarin pas keyo9Ya suda ada perubahan..

    iyah mreka bukan tontonan..bukan tempat tamasya..

  17. masoglek permalink
    May 29, 2009 1:59 pm

    waktu itu saya masih molor, padahal orang serumah pada teriak2 panik. Pas saya bangun liat kok orang2 kok pada ribut ada apa? Gila juga kalo diinget2, masak gempa kayak gitu saya gak bangun, untung saja saya selamat.
    Semoga nggak terulang lagi deh musibah kayak gitu

    • May 29, 2009 10:50 pm

      nampaknya molor masih mengalahkan getaran 5,5 SR!:mrgreen:

  18. May 29, 2009 11:56 pm

    semoga kita senantiasa berbenah untuk bersikap dan bersiap…
    hening cipta dan cinta untuk semua yang kehilangan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: