Skip to content

Perang

May 23, 2010

Saya gak tau apa itu arti perang. Gak tau sama sekali definisi sebenernya dari kata “perang”. Tapi kata ini selalu berseliweran beberapa hari terakhir, jadi saya “muntahin” aja disini!:mrgreen:

Perang status. Ini yang berseliweran pertama di kepala. Ini setelah saya baca status temen-temen di fesbuk yang status relationshipnya sepertinya bermasalah. Ketika ada yang gak diharapkan dari relationshipnya (baca : pacaran), maka saat itu juga langsung updet status fesbuknya lewat handphone yang dipegangnya. Contoh sederhananya, si A sebut saja Anggun lagi kesel dengan pacarnya yang selalu cemburuan, protektif minta amit sampe buat “gerak” pun gak bisa. Dia langsung updet status soal masalahnya, misalnya “kalau hubungan gak dilandasi kepercayaan, apa bisa langgeng??”. Si B sebut saja Bento yang gak lain adalah pacarnya yang selalu memonitor status fesbuk Anggun, gak mau kalah soal keluhan di status Anggun. Dia langsung melakukan “serangan balik” dengan menuliskan status “gampang bilang gitu, coba ada diposisi aku!!”. Dan teman yang lain ikut nimbrung komen dibawahnya, “ciee….yang lagi perang status!^^”.

Singkat cerita…kasus ini jadi ide buat satu paragraf di postingan ini (*bukan pengalaman pribadi lho ya!):mrgreen:

Perang dingin. Yang ini saya tulis aja seenaknya buat nambahin paragraf. Kayanya emang banyak yang ngalamin. Bukan cuma hubungan pacaran. Bisa juga dengan sahabat, kakak, atau bahkan dengan orang tua. Yang pacaran gak saling komunikasi, dengan alibi “saya gak salah, biar aja dia yang ngehubungin duluan, minta maaf duluan. Gengsi!”. Yang sahabatan gak saling tegur sapa kalau ketemu, milih temen lain buat dijadiin sahabat, buat dijadiin tempat curhat. Seolah-seolah “kita cerai jadi sahabat!”. Yang lebih parah dengan orang tua. Satu rumah gak basa basi, gak ada obrolan hangat, seolah-olah orang tua adalah orang lain. Mau keluar rumah gak ijin dulu, masuk rumah gak bilang apa-apa. Dingin. Namanya juga perang dingin.

Perang beneran. Maksudnya adalah kontak fisik dua kubu atau sejenisnya, ditambah mungkin pake senjata. Yang ini berseliweran setelah nonton Band of Brothers. Serial teve yang tayang di HBO dengan sepuluh episode saja. Serial yang bercerita tentang perang dunia melawan Jerman. Two thumbs up lah, mantap pokoknya. Perang yang ini gak kenal ujan atau panas, gak kenal pagi atau malem. Gak kenal musim dingin bersalju atau gak. Suara dar der dor tetep jalan! Mati karena peluru atau bom menjadi biasa.

Seorang prajurit di film itu bilang, “yang ditakutkan dalam perang dan bisa berbahaya, adalah perasaan takut itu sendiri”. War is hell, begitu katanya.

Fear is poison in combat. Something we all felt but didn’t show. You can’t. It’s destructive and it’s contagious.

Dan gambar dibawah ini adalah salah satu adegan yang paling saya suka.

Selamat hari ahad.

Yang namanya perang tetep aja gak enak. War is hell! Terima kasih buat para pejuang Indonesia dulu yang katanya cuma berbekal bambu runcing buat dipake senjata. Selamat hari kebangkitan!

Yang mau nambahin jenis perang monggo, dipersilahkan!😀

6 Comments leave one →
  1. kotev100 permalink
    May 23, 2010 2:10 pm

    Cool blog!
    Nick

  2. May 24, 2010 6:51 pm

    Keduax. . .
    Namun perang terbesar dan terberat adalah. .
    Perang melawan hawa nafsu.
    Bethol?

    • May 30, 2010 9:59 am

      hhhaa…. betul betul! perang hawa nafsu!😀

  3. May 25, 2010 5:48 pm

    Perang-perangan – bukan perang beneran😀

    • May 30, 2010 10:00 am

      pake pistol air!:mrgreen:

  4. June 24, 2010 11:20 pm

    perang pemikiran.. ghazwul fikr..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: